Kuwah beulangöng, atau sering disebut juga dengan gulèe sie kamèng (bahasa Indonesia: gulai kambing), adalah masakan Aceh sejenis gulai yang berbahan baku utama daging kambing dan nangka muda yang dimasak dalam belanga, serta disertai potongan pisang kepok, dan ditambah cabai kering, kelapa gongseng, kayu manis, dan bumbu lainnya.
Kuah Beulangong, salah satu kuliner khas Aceh Besar, telah resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia sejak tahun 2018. Hidangan tradisional ini kerap menjadi sajian utama dalam berbagai acara keagamaan, termasuk perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan berbagai acara syukuran, resepsi dan lainnya.
Nama beulangong ini berasal dari kata belanga, yang berarti kuali besar. Biasanya, masakan ini disiapkan dalam jumlah besar, cukup untuk menyajikan hingga 300 porsi. Bahan utamanya adalah daging sapi, kambing, atau kerbau, yang diracik dengan rempah-rempah khas Aceh
Rahasia kelezatan kuah bulangong terletak pada perpaduan rempah pilihan dan teknik memasak yang diwariskan turun-temurun. Proses memasaknya memakan waktu lama agar bumbu meresap sempurna ke dalam daging. Aromanya yang menggoda semakin mengundang selera, membuat siapa pun sulit menolak kelezatannya. Tidak heran, sajian ini menjadi kebanggaan masyarakat Aceh dan selalu dinantikan dalam berbagai perayaan.
Dalam proses memasak kuah beulangong ini membutuhkan waktu sekitar dua jam dan membutuhkan banyak tenaga untuk memasaknya. Selain itu, masakan khas Aceh yang satu ini juga mengkhususkan para kaum lelaki untuk memasaknya, sebagai salah satu filosofi yang melatar belakangi kuliner ini.

Sejarah Kuah Beulangong
Pada tahun 60-an, terjadi proses perdagangan yang membawa pedagang dari Gujaret (India) yang masuk ke Aceh, dimana menjadi tempat persinggahan pertama mereka di negara Indonesia. Tujuan awal mereka adalah untuk menyebarkan agama Islam sekaligus menyerap kebudayaan, salah satu nya adalah kuliner.
Para pedagang ini sempat tinggal beberapa lama di Aceh untuk menyebarkan agama Islam di Aceh, tepatnya di Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, dan sebagian wilayah Aceh Barat.
Lihat juga Mie Aceh. makanan khas Aceh lainnya yang dimasak dengan menggunakan rempah Aceh
Kuah Beulangong sudah sejak dulu menjadi tradisi kuliner bagi masyarakat Aceh daalam memeriahkan dan menyambut musim tanam padi datang. Sebelum masa turun ke sawah, terlebih dulu diadakan syukuran memohon kepada Yang Maha Kuasa agar hasil padinya mereka bagus, dijauhkan dari gangguan hama dan panen seperti yang diharapkan. Hajatan ini disebut sebagai Kenduri Blang (syukuran turun ke sawah).
Masyarakat Aceh akan menyembelih seekor sapi, kambing sesuai dengan kemampuan tiap individu ataupun keluarga. Sampai saat ini, tradisi tersebut tetap berlanjut sebagai selamatan atau syukuran disetiap acara pesta perkawinan, hajatan serta kegiatan-kegiatan perayaan lainnya.
Setelah ajaran Islam yang telah disebarkan oleh para pedagang dari Gujaret, sehingga kuliner khas satu ini menjadi salah satu kuliner yang digunakan pada acara perayaan umat Islam di Aceh.
Acara sebuah perayaan tidak akan lengkap bila tidak ada hidangan Kuah Beulangong yang menjadi santapan bersama dengan keluarga dan sesama umat Islam.